Rumput Tetangga Oh Rumput Tetangga

Sebuah peribahasa mengatakan: "Rumput tetangga jauh lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri." Mungkin peribahasa tersebut lebih cocok ditujukan kepada para kambing di luar sana, mengingat merekalah yang doyan rumput. Tapi peribahasa itu ternyata berlaku juga buat kita para manusia, walaupun kita enggak makan rumput dan enggak pernah berniat sedikitpun untuk ngrebutin rumput di halaman tetangga. Sadar enggak sih, kadang bahkan sering kita melihat kehidupan orang lain jauh lebih baik dari kehidupan kita sendiri.
"Si itu enak ya kerja di bank?! Pasti duitnya banyak!"
"Wah, anak tunggal? Enak dong, minta apa-apa diturutin!"
"Coba jadi PNS! Pulang cepet, gaji tiap bulan ngalir..."
Nah, komentar-komentar inilah yang sering aku dengar dari beberapa forum gosip, baik itu tingkat RT, RW, kelurahan, maupun tingkat daerah. Padahal kalau dipikir-pikir semua itu ada plus minusnya. Sayang, enggak banyak orang yang mau mikir, jadinya rumput tetangga jauh lebih hijau daripada rumput di halaman sendiri. Ayo para kambing, serbuuuuu.....
Coba kita bayangkan! Kerja di bank keliatannya emang enak. Setiap hari dibanjiri uang, uang, dan uang. Tapi perlu diingat saudara-saudara, itu uang bukan uang nganggur apalagi uang sumbangan dari para nasabah. Jadi, enggak mungkin banget kalau bank bikin acara saweran buat para pegawainya begitu ada nasabah yang nyetor duit. Judulnya aja 'kerja' di bank. Namanya kerja, apapun itu, pasti capek dan ada resikonya. Plus minus deh...
Jadi anak tunggal enggak selamanya juga menyenangkan. Salah satu mantan pacar, yang sekarang menjadi suami resmiku (emangnya ada yang enggak resmi? Hehe...) pernah mengeluh menjadi anak tunggal. Ya kesepian lah, enggak ada temen ngobrol, enggak ada temen berantem, enggak ada yang disuruh-suruh, pokoknya macem-macem deh. Apalagi kalau melihat ibu yang jadi sendirian di rumah setelah anak tunggalnya itu menikah. See, plus minus...
Jadi PNS harus mau ditempatkan di daerah manapun di seluruh nusantara. Kebayang enggak, kalau kita ditempatkan di daerah yang jauh banget dari rumah, bahkan jauh dari pemukiman penduduk. Sepanjang mata memandang, hanya hamparan sawah yang terlihat. Kalau musim kemarau, panasnya nauzubila. Tapi kalau musim dingin, mesti siap-siap kehujanan karena enggak ada tempat berteduh. Lha wong adanya cuma sawah tok! Jalanan becyek, enggak ada ojyek...
So, daripada kita mengikuti hasrat kambing kita untuk makan rumput tetangga, lebih baik kita syukuri aja apa yang ada. Karena Tuhan menciptakan kita satu paket, lengkap.

Syukuri apa yang ada
Hidup adalah anugrah
Tetap jalani hidup ini
Melakukan yang terbaik...
(d'massive)
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Rumput Tetangga Oh Rumput Tetangga"

Posting Komentar

Copyright 2009 Just My Mind
Free WordPress Themes designed by EZwpthemes
Converted by Theme Craft
Powered by Blogger Templates